Sejarah Gereja Methodist Indonesia Wilayah 1
Methodisme datang ke Indonesia pertama kali pada tahun 1905 setelah para misionaris Amerika mulai bekerja di Malaysia dan Singapura. Gereja Methodis di Indonesia saat itu adalah satu-satunya gereja yang tidak dimulai oleh para misionaris Belanda ataupun Jerman.
Di Indonesia, para misionaris Amerika mulai bekerja di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Pada tahun 1913, setelah datangnya Bishop J. Robinson, konferensi yang pertama pun diselenggarakan di Sumatra Utara. Pada saat itu, Gereja Methodist dikenal sebagai gereja yang unik karena ini adalah satu-satunya gereja Protestan yang anggota-anggotanya terdiri atas suku Batak dan suku Tionghoa Indonesia, sementara gereja-gereja Protestan lainnya saat itu pada umumnya tersegregasi.
GMI merupakan bagian dari Gereja Methodist Sedunia. Kini Gereja Methodist Indonesia menjalin hubungan erat dengan gereja methodist lainnya seperti United Methodist Church di Amerika Serikat dan Gereja Methodist Korea.
1. Awal Mula dan Perintisan (1905–1920)
- Kedatangan Pertama: Methodisme pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1905. Berbeda dengan gereja lain yang umumnya dibawa misionaris Belanda atau Jerman, GMI dirintis oleh misionaris Amerika yang sebelumnya bekerja di Malaysia dan Singapura.
- Tokoh Perintis: Pada tahun 1904, Pdt. G.E. Pykett mengunjungi Medan. Setahun kemudian, Salomon Pakianathan mulai mengajar dan berkhotbah dalam bahasa Melayu di Medan.
- Keunikan Awal: GMI dikenal unik karena sejak awal merangkul anggota dari berbagai latar belakang etnis, khususnya suku Batak dan Tionghoa-Indonesia, sementara gereja lain pada masa itu cenderung tersegregasi.
2. Perkembangan Misi (1920–1945)
- Ekspansi di Sumatra: Tahun 1920, pekerjaan Methodist dimulai di kalangan suku Batak Toba di Asahan. Misi juga berkembang ke wilayah Palembang, Bangka, dan Jawa.
- Pendidikan: GMI sangat aktif dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah seperti Methodist Girl's School (1923) dan Methodist Boy's School (1923) di Medan.
- Masa Penjajahan Jepang: Selama pendudukan Jepang (1942–1945), banyak misionaris harus berhenti bekerja. Hanya sedikit misionaris asal Swedia (negara netral) yang bertahan, salah satunya Pdt. Egon N. Ostrom yang akhirnya mati martir di Tebing Tinggi.
3. Menuju Otonomi dan Kemandirian (1946–1964)
- Kepemimpinan Lokal: Tahun 1946, Pdt. David Hutabarat dan Pdt. Luther Hutabarat menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai District Superintendent.
- Kemerdekaan Gereja: Pada awalnya, GMI berada di bawah kepemimpinan Bishop di Malaysia. Namun, karena ketegangan politik (Konfrontasi Indonesia-Malaysia), status ini menjadi sulit.
- Pendirian GMI: Pada 9 Agustus 1964, Gereja Methodist di Indonesia resmi menjadi gereja otonom dengan nama Gereja Methodist Indonesia (GMI). Pdt. Wismar Panggabean terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat yang pertama.
4. Perkembangan Struktur Organisasi (1967–Sekarang)
- Sistem Kepemimpinan: GMI dipimpin oleh seorang Bishop yang dipilih melalui Konferensi Agung. Bishop pertama adalah Bishop Johanes Gultom (1969).
- Pembagian Wilayah: Untuk efektivitas pelayanan, GMI dibagi menjadi dua wilayah utama:
- Wilayah I: Meliputi Aceh dan Sumatra Utara (berpusat di Medan).
- Wilayah II: Meliputi Sumatra Bagian Selatan, Jawa, dan wilayah lainnya (berpusat di Jakarta).
- Pelayanan Sosial: Selain gereja, GMI kini mengelola berbagai institusi pendidikan (seperti Universitas Methodist Indonesia), rumah sakit (RS Methodist Medan), dan panti asuhan.
GMI saat ini merupakan salah satu gereja Protestan beraliran Methodis/Wesleyan terbesar di Indonesia dan merupakan anggota aktif dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).